Bukan Kebun Yang Sama
Suatu saat, bukan pagi atau sore. Seperti di batas antara terang dan gelap.
Aku sedang duduk berdua dengan calon istriku.
Di beranda belakang suatu rumah yang berada
dalam ingatan 20 tahun yang lalu.
Halaman belakang yang tetap sama.
Dibatasi pagar kawat berduri yang disusun berjajar dan sebuah pintu
yang terbuat dari bambu.
Yang berbeda adalah hamparan rumput
diseberang pagar itu. Begitu hijau diterpa sinar
mirip purnama tetapi lebih terang sedikit.
Menurutku lebih mirip cahaya waktu maghrib.
Hamparan yang dulunya ditumbuhi pohon-pohon pisang
tak bertuan, yang tumbuh seenaknya kesana-kemari tidak terurus.
Benar-benar bukan hamparan tanah yang aku kenali.
Tak ada percakapan diantara kita.
Hanya diam memandang ke seberang pagar.
Begitu hijau dan segar, sangat menggoda kita untuk
duduk dan bercanda di atasnya.
Tetapi, tiba-tiba cahaya menjadi agak redup.
Masih terlihat jelas halaman di seberang pagar,
yang tiba-tiba kembali seperti yang ada dalam ingatanku
20 tahun yang lalu.
Tanah tak terurus yang ditumbuhi pepohonan pisang.
Kali ini agak mengejutkan. Karena semuanya berwarna
hitam mengkilat. Seperti dilumuri oli.
Pemandangan yang menurutku agak menyeramkan...
Kita berdua tetap diam.
Hanya duduk memandang ke seberang pagar.
(kenapa hal 20 tahun lalu selalu berulang??)







0 Comments:
Post a Comment
<< Home