Kekacauan di suatu malam
Malam tadi, atau lebih tepatnya jam 2 pagi. Gw mencoba memejamkan mata seusai acara dunia ikan di TV7. Namun seperti biasa, walaupun mata gw terpejam, pikiran tetap melayang-layang tanpa kompromi. Merem-melek-merem-melek, wew... Akhirnya sepuluh menit pergulatan itu berakhir setelah sekelumit kecil do'a pengantar tidur kupanjatkan.
Akankah gw nyenyak dalam damai??
Eiitt... tunggu dulu...
Ini bukan sebuah kisah yang akan berakhir bahagia. Dimana yang tertindas dan menangis akhirnya hidup penuh nikmat dengan pasangannya yang cantik/tampan mungkin juga kaya raya layaknya dalam sinetron. Bukan itu teman...
LALU APAAAA!!?? Darn..!! wasting time nih...
Oke-oke cut the rotten words off (ini maksudnya stop basa-basi kali yaa? Sok english banged deh..)
Layaknya orang tidur, dimana kesadaran hilang untuk sesaat, dan semua kendali ada dibawah sadar, maka gue pun seperti itu (astaga apa hebatnya sih?). Justru itu, itulah nikmatnya tidur. Semua diluar kendali.
Well, saat sedang melayang-layang di dunia lain, tiba-tiba ada bunyi bising mendengung. Awalnya gw cuekin, "aahh.. ntar juga ilang", gitu pikir gue. Dan seperti biasa, perkiraan gue selalu salah. Bunyi itu semakin keras dan bertambah banyak, kadang muncul kadang menghilang, begitu berulang-ulang. Secuek-cueknya gue, ya terganggu juga. Sial, baru bisa tidur. Eh, udah ada gangguan. Perlahan gw membuka mata... dan... jrengg.... jam weker hanya berjarak 10cm dari mata gue. Ooo yeah... gue tidur sambil naro jam weker disamping kepala. Itu sih bukan masalah. Yang jadi masalah, jam weker itu menunjukkan pukul 3 pagi. Apaaa!!??? Jadi gue baru tidur 1 jam..!!!
Kesal...kesal... sebal....!!@#!
Masih tetap berbaring gue berusaha melihat sumber bising yang mengganggu tadi. Dengan mata yang masih dipenuhi belek, mulut sepet, melintaslah salah satu pengganggu tadi di atas kepalaku. Pasti nebaknya nyamuk kan??
Bukan banget, itu bukan nyamuk. Itu lalat. Lalat yang jam operasionalnya mungkin terganggu, karena setau gue, lalat beroperasi dari pagi sampai sore.
Melihat pengganggu yang tidak biasa ini, gue bangkit dari berbaring dan duduk di tengah kasur sambil mengucek-ucek mata yang rada sepet. Begitu penglihatan gue makin jelas, ternyata....
Jrengg.... ada banyak lalat di pinggir kasur deket ujung kaki gue... No wonder, aktivitas mereka sangat mengganggu. Kaki gue secara otomatis menendang kesana-kemari dengan maksud mengusirnya, dan percuma karena mereka akan terbang sebentar lalu kembali mendarat di tempat yang sama.
Lalu gue teringat, dulu waktu pertama kali pindah ke kamar kos ini, ada sapu lidi kecil yang ditinggalkan pemilik lama. Sapu lidi itu bersih, tampaknya dulu digunakan untuk membersihkan kasur. Untungnya sapu lidi itu tidak gw buang, tapi gw letakkan di celah kecil samping bufet, tempat meletakkan TV 21", dan dinding. Dengan harap-harap cemas gue memasukkan tangan kiri gue ke dalam celah sempit itu sambil meraba-raba dengan ujung jari. Maklum, letaknya agak ke dalam. Yup, dapat. Lalu gw kembali ke ranjang dan duduk di tengah-tengahnya.
Maka dimulailah pertempuran itu. Aku, bersenjatakan sapu lidi kecil melawan gerombolan yakuza lalat. Ciatt..ciatt..bett...bett.. sapu lidi kusabetkan ke kanan dan ke kiri. Aku jadi teringat Naruto saat belajar bersama teman-temannya di kelas Ninja Junior.
Tak terasa sudah 15 menit adegan pertempuran itu berlangsung dan gerombolan yang terbang kesana-kemari tinggal sedikit. Oke... break dulu. Tangan kanan ku sudah terasa pegal. Kulihat bangkai-bangkai mereka berserakan didekat bufet TV. Iseng ku hitung jumlahnya. Fantastis... ada 8 bangkai lalat. Sementara yang masih terbang karena panik akan seranganku mungkin masih 3 ekor lagi. Bagaimana ini..? 3 ekor itu tetap terbang kesana-kemari dan enggan mendarat. Aku malas melancarkan serangan saat mereka terbang. Kemungkinan mereka lolos sangat tinggi. Jadi, sayang buang-buang tenaga. Ku lirik baygon semprot, pembasmi serangga yang ampuh. Apa harus dengan cara ini?? Ga ah... Bukannya aku malas menggunakan teknologi. Terkadang teknologi bukan solusi yang terbaik untuk memecahkan suatu masalah. Disamping itu, aku tidak mau menambah jumlah racun yang mungkin diserap oleh tubuh rapuhku ini.
Putus asa memikirkan sisa lalat yang terbang, aku pun berbaring sambil tangan kanan tetap menggenggam erat sapu lidi kecil. Sambil sesekali menyabet ke udara saat salah satu lalat terbang melintas di atasku, aku berpikir. Sudah tidak mungkin lagi aku melanjutkan tidur karena jam menunjukkan pukul 3.25. 5 menit lagi aku harus keluar untuk membeli makan sahur.
Malam itu. Aku hanya tidur 1 jam. Dan tidak mungkin melanjutkan tidur setelah makan sahur karena aku harus kerja jam 7 pagi.
Tidur malam memang nikmat yang berharga yang jarang aku dapatkan.







4 Comments:
kok di lalerin...?
Udah cuci kaki belom?
Udah dunks...
Disini lagi musim buah sekarang.
Makanya populasi lalat meningkat drastis...
Apalagi kamar kos gue deket banget ama tukang jualan aneka ragam makanan...
Lengkap sudah penderitaan gue.
Hikkss...hikkss...
kan sekarang lagi rame2nya bantuan ganti rugi kayak Kompensasi BBM-Naik...
Nah, mungkin elo bisa nagih Kompensasi Jualan Buah... (eh... itu mah pungli yaaa)
...
Mungkin elo bisa jualan obat ngusir lalat... peluang bisnis tuh..
Hahaha...
Ngomong pungli, jadi inget ama preman angkot di Bitung. Tiap kenek kudu nyetor, kalo ga digebok. Padahal kerjanya cuma ngacung2in tangan sambil teriak,
"Curug..Legok..Paruung..." 3x
Dapet deh seceng... Udah gitu nulis sesuatu macam daftar diatas robekan kardus rokok(biasanya gudang garam).
Post a Comment
<< Home