Kutukan
Mungkin ini bukan topik yang menarik, apalagi ilmiah. Hmm.. saya rasa bukan tugas saya untuk menulis sesuatu yang menarik.
Well, umat Islam pasti tahu. Adalah Tuhan yang pertama kali mengutuk, yaitu saat Iblis tidak menuruti perintah-Nya untuk sujud kepada Adam, bapak moyang kita. Ada di Al-Qur'an Surat apa ayat berapa? Cari sendiri... :p Yang lucu, Iblis tidak balik mengutuk manusia, akan tetapi malah berdo'a agar umurnya dipanjangkan sampai akhir zaman. Mengapa begitu? Wah, yang ini sih tugas ulama untuk menjawab.
Lalu, apakah kita manusia boleh mengutuk???
Dulu, saya pernah membaca sebuah kisah tentang kutukan yang masih tersisa sedikit di dalam otak saya yang kosong.
Saat Islam sedang berkembang, ada lima orang pendeta yang kurang suka dengan perkembangan itu dan sudah kehabisan akal untuk menghentikannya. Mereka lalu menemui Muhammad SAW dan menantangnya untuk saling mengutuk tentang kebenaran Islam. Nabi pun menyanggupinya. Maka ditentukanlah waktu dan tempat untuk melaksanakan aksi kutuk-mengutuk itu. Kutukannya sederhana dan berlaku tujuh turunan. Saat tiba waktu pelaksanaannya, Nabi pun datang. Bersama beliau, Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan bin Ali dan Husein bin Ali. Akhir kisah, lima pendeta yang menantang tersebut membatalkan acara kutuk-mengutuk setelah melihat lima orang yang berdiri di depannya. Mereka takut setelah melihat figur lima orang tadi dan berpikir, "Apapun yang lima orang ini minta, maka langit pasti akan mengabulkannya". Acara tersebut batal dengan sukses.
Dari kisah tersebut bisa kita simpulkan:
- Untuk sebuah pertikaian, bisa diselesaikan juga dengan cara saling kutuk.
- Jumlah peserta min/max lima orang diutamakan sedarah dan memiliki ahlak yang baik
- Waktu dan tempat ditentukan dengan jelas dan disepakati oleh kedua belah pihak
- Hasil kutukan berlaku tujuh turunan dan tidak bisa dibatalkan
- Yang ini ga jelas, boleh disaksikan orang lain atau tertutup
- Penantang atau yang ditantang boleh membatalkan acara tersebut
- Silahkan simpulkan sendiri...
Hmm.. ini berarti kita manusia boleh mengutuk ya?
Suatu saat, saya bertemu dengan seseorang yang benar-benar amat sangat menyebalkan. Berhari-hari berinteraksi dengan orang tersebut dan tidak sedikitpun berkurang perlakuannya yang menyebalkan. Dengan emosi yang memuncak karena amarah yang telah berbulan-bulan saya pendam, akhirnya, saya mengutuknya. Saat itu saya sudah tidak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi. Saya benar-benar mengutuknya dengan setulus hati. Isi kutukannya sederhana, "Sengsara dunia - akhirat".
Seminggu setelah peristiwa itu, saya perlahan mulai menyesalinya. Kenapa saya harus mengutuknya. Dan yang lebih parah lagi, saya tidak tahu bagaimana membatalkan kutukan itu dan menghentikan proses kutukannya.
Waktupun berlalu, secara perlahan saya berusaha melupakannya. Meski begitu, saya tahu persis hal-hal buruk yang menimpa orang itu. Dan terus menghantuiku.
Saat itu saya berjanji tidak akan pernah mengutuk lagi, kecuali kepepet ;)







1 Comments:
hati-hati dengan apa yang kamu minta, karena mereka bisa menjadi nyata.
pernah pada suatu ketika aku malas sekali pergi ke kantor dan berharap sesuatu yang buruk terjadi sehingga aku tidak perlu ke kantor. dan sewaktu dalam perjalanan, sesuatu benar-benar terjadi dan perjalanan ke kantor menjadi terhambat. aku menjadi sangat ketakutan dan berjanji tidak akan meminta hal-hal yang aneh lagi ....
Post a Comment
<< Home