Thursday, March 24, 2005

Birth Mark

Sore, 2 hari yang lalu, iseng gw ke dokter kulit.
Sebenarnya bukan iseng tetapi karena gue mulai khawatir dengat bintik-bintik coklat yang bermunculan di bahu dan lengan atas di kanan kiri tangan gue. Jumlahnya belum sempat gue hitung, nantilah kalo gue ada waktu.

Bintik-bintik ini sebenarnya ga mengganggu, gatalpun ngga. Cuma, pacar gue yang ga enak ngeliatnya.

Ya sudah, pergilah gue ke dokter kulit di Kuta dekat Jogger.
Sesampainya disana gue mesti antri dan dapat antrian no. 10. Hmmm... bakal lama nih, mana dokternya belum datang. Disitu sudah ada 3 orang pria, 6 wanita, 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Tiap orang duduk di atas kursi plastik berwarna merah yang ada senderannya, kecuali 1 anak perempuan yang dipangku oleh seorang wanita, mungkin ibunya.

Ngapain sih gue ceritain orang lain?
Ga kenapa2, tapi gue sibuk menduga-duga, kira-kira apa penyakit orang-orang ini karena di papan nama yang tergantung di atas ruang periksa dokter tersebut tertulis "dr. ENDANG SUKRAWATI - Spesialis Kulit dan Kelamin". Hmmm... apa mungkin dari orang-orang yang sedang menunggu ini ada yang mengidap penyakit kelamin. Gue sih langsung menuduh 2 orang pria yang duduk di deret kiri depan gue. Baiknya gue jelaskan ciri-cirinya, sebut saja pria A, B, C dst. Pria A, mengenakan kemeja lengan pendek warna merah maroon, umur kira2 28 tahun, cukuran rambutnya sangat pendek, kulitnya putih dan tangannya sedikit berbulu. Kalau gue lihat tangannya sepertinya ga ada problem masalah kulit. Jadi gue duga dia mengidap penyakit kelamin terutama dari dandanannya yang metro banget gitu loh...

Ah.. udah ah ga usah ngomongin orang. Yang jelas gue jadi parno, terlebih karna gue nomor urut terakhir untuk diperiksa. Apa mungkin nanti gue bisa tertular penyakit mereka karena gue duduk di kursi yang bekas mereka duduki. Hiiii.... ceyem...

Okey. Si dokter datang dan kita diperiksa satu demi satu. Tiba giliran gue, gue ga mau duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter. Tapi langsung nunjukin bintik-bintik di kulit tangan gue. Tanpa ba-bi-bu dokter bilang bahwa ini diakibatkan karena sabun yang gue pakai sambil menyebut sederet merk sabun murah. Wew, gue diam aja. Terus ga berapa lama dia menuliskan sederet obat yang harus gue pakai dengan tulisan yang ga terbaca. Setelah itu dia mengeluarkan sabun yang gue kenal betul merupakan salah satu produk multilevel. Dalam hati gue, "buset dah ni dokter, tanpa cerita analisa apapun tentang penyakit gue, tau-tau ngeluarin sabun aja. Kalo memang mo jualan, jangan kaya gini dong caranya". Tapi yah... lagi-lagi gue cuma diam. Setelah bayar ongkos sabun dan mengambil resep yang selesai dia tulis, gue pun pulang.

Ga langsung pulang, tapi mampir dulu di apotik rujukan perusahaan untuk ngambil obat. Gue dapat pil yang harus diminum 3 biji sekaligus tiap pagi ditambah se mangkuk/botol? kecil salep yang nantinya harus dioleskan diatas bintik-bintik kulit gue.

Sesampai dirumah, dengan nafsu ingin menumpas bintik-bintik sial ini, gue langsung buka baju dan mulai mengoles salep yang gue dapat tadi. Setelah oles sana oles sini, tiba-tiba mata gue tertumbuk pada satu area dibawah lipatan lengan kanan gue. Disitu warnanya berbeda. Tidak seperti bintik-bintik yang berupa lingkaran coklat dengan diameter 2mm, melainkan seperti huruf H dengan tinggi 2cm. Setelah gue perhatikan lagi, ternyata itu lebih mirip tanda lahir (birth mark). Birth mark?? Gue yang sekian tahun hidup ini ga pernah menyangka punya tanda seperti ini, yang letaknya di antara dada kanan dan punggung 10 cm dibawah ketiak. Selama ini kalau membicarakan tanda lahir dengan ibu gue, dia selalu dengan pasti bilang, "Jod, elo ga punya tanda lahir, jadi ga usah repot mencari-cari diseluruh tubuh", dan kalimat itu selalu berulang-ulang dikatakannya setiap kali gue membicarakan tanda lahir. Yah.. agak terkejut sedikit, terutama melihat bentuknya yang persis huruf H. Gue jadi menduga-duga, apa ya artinya..?? Atau memang ga ada arti apa-apa selain karena kulit gue mengalami pigmentasi.

Biarlah... Yang jelas sekarang gue tau kalau gue punya tanda lahir.

Hanya itu

Dedicated to someone that I don't belong

Hanya itu

Tatapan itu,
sepasang mata berbinar
dihiasi bulu halus terlihat lentik karna alat pelentik
yang diatasnya ada alis tipis melengkung…

Bola mata itu,
Tidak hitam namun agak kecoklatan
Tidak besar tidak pula kecil
Menatapku tajam penuh makna…
(makna yang sampai saat ini tidak pernah bisa kujawab)

Wajah itu,
bersandar pada bahu, bukan bahuku
terus terarah padaku yang menoleh ke arah lain

Aku disini,
Masih jelas ditelingaku
Bisikan lirih:
“Aku ingin dengar suaramu malam ini”
“Mungkin ini terakhir kali aku bisa mendengar suaramu”

Aku berdiri diam,
Memandang kearahnya
Mengingat pesan singkatnya semalam:
“Malam ini indah, aku suka sekali, melihat bintang2 dimalam yang gelap”
“smoga mimpi indah”

Aku, tetap diam
Menatap kosong pada mata yang mulai berkaca
Dengannya tidak jauh tidak pula dekat
Tetapi terhalang, itu saja…

Aku,
berpaling dan menjauh
hanya itu…




(tapi kurasa akan lebih dari itu)

Tuesday, March 22, 2005

Affair..affair..and affair...

Gw mo cerita.
Sbenarnya ini cerita ttg temen bilyar gue... Gue sendiri baru temenan ama dia kurang dari sebulan
paska lomba bilyar di perusahaan tempat gue kerja.

Mulanya dari seringnya gw maen bilyar ama dia. Dimana saat main bilyar itu, sering banget dia sms-2an. Lalu iseng gw tanya, "Loe sms-an ama sapa seh??" Dia jawab, "Ada deh..." Lalu dia cerita, bahwa udah bbrp bulan ini ada affair dng seseorang. Dia sendiri sudah menikah dan punya 1 anak yg lucu berumur kira2 2 tahun.

Well, waktu berlalu... dan sms terus berlanjut.

Sampai suatu ketika, 2 hari yg lalu, saat kita sedang main bilyar dan seperti biasa dia melanjutkan sms-2annya. Tiba2 muncul istrinya ke tempat kita main bilyar. Bukan itu saja, si istri tiba2 merebut HP temanku itu dan memeriksa semua sms. Pdhl beberapa menit yg lalu, temen gue itu baru mengirim sms ke "temannya". Dugaan gue, dia belum sempat menghapus sms mesranya tsb.

Hasilnya, dalam waktu yg penuh ketidak pastian itu, permainan bilyarnya benar2 kacau. Persis saat orang pertama kali lomba bilyar dalam pertandingan final, dimana mental pemain belum cukup kuat menerima tekanan disekililingnya. Belum lagi ditambah expresinya yg kalut dan penuh ketakutan.

Tiba2 HPnya berbunyi, tanda sms diterima. Wah... makin kacau aja. Dia berusaha menghalang-halangi istrinya utk membaca pesan tsb. Tapi bisa diduga, dng perasaan wanita yg demikian kuat. Si istri spertinya tau apa yg sedang terjadi.

Gue hanya bisa menduga-duga, bahwa akan ada pertengkaran hebat malam nanti.

Setelah istrinya pulang dng sikap yg aneh serta tidak biasa, teman gue ini terduduk lemas dan menghentikan permainan. Selama 0,5 jam dia hanya duduk bengong memandang ke arah pintu keluar tempat bilyar. Lalu dia bilang ingin pulang duluan. Gue cuma bilang ke dia, prepare aja dari skrg apa yg mau loe omongin...

Besoknya, gue terima sms dari dia. Isinya demikian riang seolah tidak terjadi apa2. Dia mengajak gue utk main bilyar 2 hari lagi, sambil bilang bahwa masalahnya sudah beres.

What??? Udah beres??? So easy isn't it???

Hikmah dari cerita diatas:
Kalau punya affair, simpanlah serapi mungkin. Jangan sampai ketahuan.